Jumat, 21 Agustus 2020

Gelaja Covid 19


Masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap COVID-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit.
Gejala yang paling umum:
1. demam
2. batuk kering
3. kelelahan
Gejala serius kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri dada atau rasa tertekan pada dada hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak.

Semoga bermanfaat....


Doa Agar Terhindar Dari Covid 19


Selain dengan pencegahan, tidak ada salahnya sebagai umat muslim mendekatkan diri dengan sang pencipta dan memanjatkan doa demi keselamatan bersama. Nabi Muhammad SAW bahkan mengajarkan umatnya untuk berdoa agar terhindar dari wabah penyakit menular pada masanya.


Semoga bermanfaat....

Tips Mengolah Handsanitazer dengan Daun Sirih


Agar dapat mengoptimalkan langkah pencegah guna tangkal virus corona covid-19, Anda dapat langsung membuat hand sanitizer sendiri. Berikut adalah cara membuat hand sanitizer yang tidak membutuhkan waktu lama:

1. Cuci 50 gram daun sirih hingga bersih
Keringkan daun sirih dengan cara diangin-anginkan
2. Setelah dipastikan kering dan bersih, potong daun sirih tersebut menjadi kecil kecil
3. Tuang 50 g daun yang telah dipotong kecil-kecil ke dalam panci yang berisi 200 ml air panas
4. Setelah selesai, ambil panci lain yang lebih besar
5. Isi panci tersebut dengan air dingin
Masukkan panci yang berisi rendaman daun sirih ke dalam panci yang lebih besar
6. Rebus daun sirih
7. Panaskan hingga 90 derajat celcius
Setelah selesai, diamkan dan tunggu hingga 30 menit
8. Setelah dingin, saring rendaman daun sirih ke dalam gelas ukur
9. Tuangkan air daun sirih 
8. Tambahkan 8 ml air jeruk nipis
9. Tambahkan air secukupnya
10. Tuangkan ke dalam botol spray
11. Siap digunakan

Semoga bermanfaat...

Kamis, 20 Agustus 2020

cara aman sembelih kurban di masa covid 19


Jaga Jarak Fisik (Physical Distancing)

Menurut surat edaran yang resmi diterbitkan oleh Kementerian Agama, jaga jarak fisik atau physical distancing yang perlu dilakukan meliputi:

1. Pemotongan hewan kurban dilakukan di area memungkinkan penerapan jarak fisik.

2. Penyelenggara mengatur kepadatan di lokasi penyembelihan, hanya dihadiri oleh panitia dan pihak yang berkurban.

3. Pengaturan jarak antar panitia pada saat melakukan pemotongan, pengulitan, pencacahan, dan pengemasan daging.

4. Pendistribusian daging hewan kurban dilakukan oleh panitia ke rumah mustahik.

Salah satunya adalah dengan menerapkan jaga jarak dengan sesama supaya tidak terjadi mata rantai penularan virus dengan mudah...

Semoga bermanfaat...


Kamis, 13 Agustus 2020

Keutamaan membaca surah Al-Kahfi pada malam jum'at dan hari jum'at

By : Asrina Pulungan(1740200124)

        

      Surah Al-Kahfi merupakan salah satu surah yang ada didalam Al-Qur'an surah ini ada di dalam juz ke-15 dan di awal juz 16. Surah Al-Kahfi termasuk surat makkiyah yang diturunkan di makkah. Dalam surah Al-Kahfi terdapat 110 ayat.

           Pada dasarnya tidak dibolehkan mengkhususkan ibadah tertentu pada malam jum'at dan siang harinya. Berupa shalat, tilawah, puasa dan amal lainnya yang tidak bisa dikerjakan pada hari selainnya. Kecuali, ada dalil khusus yang memerintahkannya. Hal ini berdasarkan  hadist dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya:

" Janganlah kamu mengkhususkan malam jum'at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah mengkhususkan siang hari jum'at untuk mengerjakan puasa dadi hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian." (HR.Muslim, al-nasaih, al-baihaqi  dan ahmad.

          Dan adapun keutamaan membaca surah Al-Kahfi yaitu:

1. Dapat melindungi kita dari dajjal dN fitnahannya 

2. Kita akan mendapatkan cahaya penerang dari Allah Swt

3. Kita akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt

4. Dapat menghindarkan kita dari gangguan setan


Berdangan secara islami

 By : Asrina Pulungan (1740200124)

         perniagaan adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya yang berdasarkan kesepakatan bersama bukan pemaksaan. Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang dinamakan barter yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern perdagangan dilakukan dengan penukaran uang. Setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan menukar barang atau jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual.     

          Salah satu kebutuhan dasar setiap orang ialah makan dan minum atau segala sesuatu untuk kehidupan dan kelangsungan hidup, setiap orang wajib berusaha sendiri semampunya untuk mencukupi segala kebutuhannya yakni dengan bekerja di bidang apa saja yang halal dengan niat untuk mendaat rezeki yang berkah di jalan Allah agar tercapai seperti cara berdagang Rasulullah agar sukses dan berkah.

        Adapun cara berdagang yang diterapakan oleh rasulullah yaitu:

Pertama kita harus mengetahui apa itu jual -beli dan apa itu etika bisnis. Jual  beli adalah transaksi antara satu orang dengan orang yang lain yang berupa tukar-menukar suatu barang dengan barang yang lain berdasarkan tata cara atau akad tertentu. Hukum jual  beli adalah halal.
      Terdapat rukun dan syarat  - syarat tentang jual -beli. Rukun dan syarat - syarat jual  beli tersebut harus terpenuhi apabila tidak melakukan rukun dan syarat jual beli maka transaksi jual beli tidaklah sah.
  Adapun syarat jual beli yaitu:
1.  Berakal

2.Kehendak dir

3. Mengetahui 

4. Suci barangnya 

5. Barang bermanfaat

6. Barang sudah dimiliki

7. Barang dapat di serah terimakan

8. Ijab dan kabul transaksi harus saling terhubung.

      Dan adapun rukun jual beli yaitu:

1. Adanya penjual dan pembeli

2. Adanya barang yang dijual atau ditransaksikan

3. Ijab dan kabul

   

Adab Bertamu Ala Rasulullah

Hai sahabat tau gak sih gimana adab dalam bertamu,  yuk... Sama-sama kita baca tentang adab bertamu ala Rasullah
Saling mengunjungi dan bertamu merupakan hal yang sering atau biasa terjadi. Namun, banyak di antara kita yang tidak memperhatikan atau belum mengerti adab-adab dalam bertamu yang sesuai dengan syariat Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, antara lain:

1. Memilih Waktu Berkunjung

Ketika hendak bertamu sebaiknya memilih waktu yang tepat untuk bertamu, karena waktu yang kurang tepat dikhawatirkan mengganggu tuan rumah.

Anas bin Malik ra, mengatakan “ Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau biasanya datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.”(HR. Al Bukhari dan Muslim).

2. Meminta Izin dan Memberi Salam Kepada Tuan Rumah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “ Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum memintaizin dan member salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat.” (Qs. An-Nur: 27)

Di antara hikmah yang terkandung di dalam permintaan izin adalah untuk menjaga pandangan mata. Rumah itu seperti penutup aurat bagi segala sesuatu yang ada di dalamnya sebagaimana pakaian sebagai penutup aurat bagi tubuh. Jika seorang tamu meminta izin terlebih dahulu kepada penghuni rumah, maka ada kesempatan bagi penghuni rumah untuk mempersiapkan kondisi di dalam rumahnya.

Di antara mudharat yang timbul jika seseorang tidak minta izin kepada penghuni rumah adalah bahwa hal itu akan menimbulkan kecurigaan dari tuan rumah, bahkan bisa-bisa dia dituduh sebagai pencuri, perampok, atau yang semisalnya, karena masuk rumah orang lain secara diam-diam merupakan tanda kejelekan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum mukminin untuk memasuki rumah orang lain tanpa seizin penghuninya.

Kemudian mengucapkan salam. seseorang yang bertamu diperintahkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, sebagaimana ayat 27 dari surah An-Nur di atas.

Pernah salah seorang sahabat dari Bani ‘Amir meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ketika itu sedang berada di rumahnya. Orang tersebut mengatakan, “Bolehkah saya masuk?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memerintahkan pembantunya dengan sabdanya, “Keluarlah, ajari orang itu tata cara meminta izin, katakan kepadanya, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut didengar oleh orang tadi, maka dia mengatakan, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Akhirnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mempersilakannya untuk masuk ke rumah beliau. (HR. Abu Dawud).

3. Meminta Izin Sebanyak Tiga Kali

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Meminta izin itu tiga kali, jika diizinkan maka masuklah, jika tidak, maka pulanglah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4.Jangan Mengintip ke Dalam Rumah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa mengintip ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka sungguh telah halal bagi mereka untuk mencungkil matanya.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, terdapat ancaman keras dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seseorang yang bertamu dengan mengintip atau melongok ke dalam rumah yang ingin dikunjungi.

5. Mengenalkan Diri

“Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian aku mengetuk pintunya, beliau bersabda, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Saya.” Maka beliau pun bersabda, “Saya, saya.” Seolah-olah beliau tidak menyukainya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan tentang kisah Isra` Mi’raj, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kemudian Jibril naik ke langit dunia dan meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya, “Siapa anda?” Jibril menjawab, “Jibril.” Kemudian ditanya lagi, “Siapa yang bersama anda?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Kemudian Jibril naik ke langit kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya di setiap pintu langit, Jibril ditanya, “Siapa anda?” Jibril menjawab, “Jibril.”(Muttafaqun ‘alaihi).

Dari kisah ini, al-Imam an Nawawi rahimahullah dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhush Shalihin membuat bab khusus, “Bab bahwasanya termasuk sunnah jika seorang yang minta izin (bertamu) ditanya namanya, “Siapa anda?” maka harus dijawab dengan nama atau kunyah yang sudah dikenal.

6.Menyebut Keperluannya

Adab seorang tamu selanjutnya yaitu menyebut urusan dan keperluan dia kepada tuan rumah, supaya tuan rumah lebih perhatian dan menyiapkan diri kearah tujuan. Tersebut, serta dapat mempertimbangkan dengan waktu dan keperluannya sendiri. Hal ini sebagaimana kisah para malaikat saat bertamu kepada nabi Ibrahim as, Allah berfirman, “Ibrahim bertanya, “Apakah urusanmu wahai para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa.” (Qs. Adz-Dzariyat: 32)

7. Tidak Memberatkan Tuan Rumah dan Segera Kembali Ketika Urusannya Selesai

Bagi seorang tamu hendaknya berusaha tidak membuat repot atau menyusahkan tuan rumah dan segera kembali ketika urusannya selesai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “…tetapi jika kalian diundang maka masuklah, dan bila telah selesai makan kembalilah tanpa memperbanyak percakapan…” (Qs. Al-Ahzab: 53)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda, “Jamuan tamu itu tiga hari dan perjamuannya (yang wajib) satu hari satu malam. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tinggal di tempat saudaranya hingga menyebabkan saudaranya itu terjatuh dalam perbuatan dosa. Para sahabat bertanya, “Bagaimana dia bisa menyebabkan saudaranya terjatuh dalam perbuatan dosa?” Beliau menjawab, “Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.” (HR. Muslim  dan Abu Dawud).
   Dan adapun hadis dari adab bertamu yaitu 
 
Semoga bermanfaat ya sahabat ....
                 By Maya Adelina Siregar
                            1740100207
                        Perbankan Syariah
                      DPL Sry Lestari, M.E.I.

Gelaja Covid 19

Masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap COVID-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami...